TOWARANI

TOWARANI

TOWARANI

Humor Gallery

TOWARANIN

T O W A R A N I

TOWARANI

TOWARANI 1407

TOWARANI

TOWARANI

Berita Terkini :

ARUNG PALAKKA

Sesudah To Appatunru Arung Palakka Petta Malampe’E Gemme’na Mangkau ri Bone Torinsompae ri Gowa Mattinroe ri Bontoala Raja Bone ke-15, (1667-1696), dalam sebuah perang saudara mengalahkan Karaeng Mallongbasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangngape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla Pangkana, maka Arung Palakka mewujudkan cita-citanya dalam bidangg social politik, yaitu memerintahkan La Patau kemenakannya, karena Arung Palakka sendiri tidak mempunyai anak, untuk memperistri putri raja Luwu yang bernama We Ummu Opu Larompong dan kemudian memperistrikan pula putri raja Gowa Sultan Abdul Jalil yang bernama I Mariyang karaeng Patukangang cucu Sultan Hasanuddin. Tujuan Arung Palakka ialah mempersatukan kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan melalui ikatan kekeluargaan. Dan strategi ini cukup ampuh. Putri La Patau dari We Ummu, Batari Tojang Arung Timurung, menjadi raja atau Mangkau di Bone (1714-1715), selain itu ia juga menjadi Pajung di Luwu dan datuk di Soppeng. Adapun anak-anak La Patau dari I Mariyang karaeng Patukangang :
1. La Padang Sejati To Appaware Palakka Matinroe Ri Beulak menjadi Mangkau Bone ke 18 dan Datu Soppeng (1715-1720)
2. La Pareppa To Sappewalie Mattinroe Ri Sombo opu menjadi Mangkau Bone ke 19 (1720-1724), sebelumnya beliau menjadi Somba Ri Gowa ke 20 (1709-1712).
3. La panaungi To Appawawoi Arung mampu Mattinroe Ri Bisei menjadi Mangkau Bone ke 20.
4. La Tomasonge Jaliluddin Abdul Rajab Datu Baringang Mattinroe Ri Mallimongang menjadi Mangkau Bone ke 22 (1749-1775) dan atu Soppeng (1938-1749).
Demikianlah taktik dan startegi “kerukunan dalam keluarga” menjadi pukulan berat terhadap penguasa colonial Belanda, maka mereka tidak punya cara lain melawannya selain mengeluarkan senjata ampuh mereka: Devide Et Impera (politik pecah belah).

SULTAN HASANUDDIN

Dari khazanah sejarah masa lalu, ada banyak tokoh yang layak kita kagumi. Tak saja mengingatsituasi dan kondisi pada masa si tokoh hidup. Tapi, saya kira, juga di sepanjang masa. Di bidang kemiliteran dan angkatan laut, misalnya, kita bisa menemukan Karaeng Samarluka. Dengan menggunakan 400 perahu perang, tahun1420, beliau menyerang dan menduduki Malaya selama tiga bulan. Pendudukan itu gagal karna pasukan Uernielingscorps setempat akhirnva melakukan siasat bumihangus.

Dari khazanah sejarah masa lalu, ada banyak tokoh yang layak kita kagumi. Tak saja mengingatsituasi dan kondisi pada masa si tokoh hidup. Tapi, saga kira, juga di sepanjang masa. Di bi¬ clang kemiliteran dan angkatan laut, misalnya, kita bisa menemukan Karaeng Samarluka. Dengan menggunakan 400 pera¬hu perang, tahun1420, beliau menyerang dan menduduki Malaya selama tiga bulan. Pendudukan itu gagal karna pasukan Uernielingscorps setempat akhirnva melakukan siasat bumihangus. Kemudian ada pula Syekh Yusuf putera Sombaya ri Gowa ke 14, I Mangu'rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (1601- 1639). Syekh Yusuf ini pahlawan penyebaran agama Islam di seluruh Sulawesi Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Mataram. Selain itu, beliau mengadakan perang jihad melawan Kompeni. Selain rakyat Sulawesi Selatan dan Jawa Barat, rakyat Srilangka dan Anrika Selatan pun sangat mengagung-agungkan beliau kare¬na jasa-jasanya dalam pengajaran agama Islam dan kepeloporannya dalam me¬lawan kolonialisme. Lalu ada I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Ha¬sanuddin dengan armada angkatan lautnya yang sangat lincah mengadakan ger¬akan-gerakan manuver di lautan, di bawah pimpinan Panglima Armada Laut Karaeng Bontomarannu. Sultan Hasanuddin sangat ditakuti kompeni Belanda, Kemudian I Maninrori Karaeng Galesong putera Sultan Hasanuddin Sombaya ri Gowa. Dalam usia 19 tahun, beliau telah menjadi Panglima Perang, bergabung pada Laksamana Karaeng Bontomarannu, dan dengan kekuatan 300 perahu perang dengan 20 ribu prajurit, menjelajahi lautan pesisir utara Pulau Jawa dan menteror VOC Belanda. Dari sejumlah tokoh itu, yang juga layak dicatat secara khusus adalah Sultan Malikussaid, raja Gowa ke 15 dan Karaeng Patingalloang. Setelah I Mangu'rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gau¬kanna watat pada tanggal 15 Juni 1635, beliau digantikan puteranya: I Mannuntungi Daeng Matlola Karaeng Lakiung Sultan Malikussaid Tumenanga ri Papan¬batuna, "aja Gowa ke 15 (1601-1639). Raja Gowa ke 15 ini selain mendapatgelar Sultan Muhammad Said, juga mendapat gelar Sultan Malikussaid dari Mufti Ara¬bia berhubung kegiatan beliau dalam mengembangkan agama Islam dengan taqwa dan sungguh-sungguh ke seluruh daerah kekuasaannya, baik di Sulawesi maupun di luar Sulawesi. Kemasyhuran Sultan Malikussaid tak hanya terbatas di kawasan Nusantara. Tapi sampai di Asia dan Eropa, terutama disebabkan oleh jasa-jasa dari Karaeng Pati¬ngaloang sebagai Mangkubumi kerajaan Gowa yang dikenal ahli dalam dunia diplomasi dan hubungan luar negeri. Sultan Malikussaid mengadakan persahabatan dengan orang-orang utama di seluruh dunia terutama dengan Mufti Besar Arabia di Mekkah. Sultan Malikussaid terpuji karma keberaniannya, kepandaiannya dalam bergaul dengan para raja, tahu menghargai pembesar-pembesar bawahannya, bijaksana, tahu membalas budi, sehingga rakyat sangat rnencintainya. Raja-raja lalim ditak¬lukkannya, perdagangan budak dibasminya, dan hasrat Belanda untuk menguasai kepulauan Maluku serta Ternate dengan cengkeh dan palanya, dihalangi beliau dengan diplomasi. Bila diplomasi tidak berhasil, maka digunakan kekerasan, terma¬suk menggunakan kelasykaran sekutunya dalam TelluE Bocco. Sultan Malikussaid menaklukkan seluruh kerajaan di Sulawesi termasuk Sangir dan Talaud, Berau dan Kutai di Kalimantan Timur, kepulauan Nusantara kecuali Bali, Mare'ge (Australia Utara) dan kepulauan Maluku Tenggara.
I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung Sultan Malikussaid Tumenan¬ga Papanbatuna ini adalah ayah I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto¬mangape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla Pangkana, raja Gowa ke 16 (1653-1669), yang oleh pemerintah NKRI telah dinyatakan sebagai pahlawan nasional. Seperti disebutkan tadi, keberhasilan Sultan Malikussaid mengelola kerajaan tak lepas dari Karaeng Patingaloang. Beliau ini disebut-sebut bangsa kulit putih yang mengenalnya sebagai "orang paling cerdas dan paling pintar di dunia". Nama Ieng¬kap Karaeng Patingaloang adalah I Mangadacinna To Waniaga Daeng Sitaba Ka¬raeng Patingaloang Sultan Mahmud Tumenanga ri Bonrobiraeng. Lahir tahun 1600 dan wafat tahun 1654. Beliau putera raja Tallo ke 6, Karaeng Matoaya Sultan Ab¬dullah Awwalul Islam, dan bersaudara sepupu dengan Sultan Malikussaid. Karaeng Patingaloang menjadi mangkubumi atau kepala pemerintahan negara (rijkshestuurder) atau Perdana Menteri merangkap penasihat kerajaan Makassar (Gowa dan Tallo) tahun 1639 -1653. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai ahli Ilmu Akhlak (Charakteroloog) dan Philosoof, ahli Ilmu Agama (Theoloog) dan telah mempelajari semua Bangsa (Ethnoloog) yang membawa bahasanya (Linguistics) untuk dikembangkan di Makassar, ahli Ilmu Alam (Natural Sciences), ahli Ilmu bumi (Geography), ahli Ilmu Bahasa (Linguistics), ahli Ilmu Jiwa (Psycholoog), ahli Ilmu Falak (Astronoloog), ahli Ilmu Firasat (Occultism), ahli Ilmu Hayat dan Ilmu Hewan (Biolog dan Zoloogi), ahli Ilmu Hukum dan Masyarakat (Juris Prudence dan Socioloog), ahli Ilmu Pasti dan Pengetahuan (Mathematics en Science), dan ahli Ilmu Sejarah dan Tasyrih (History en Anatomy). Karena itu, tak heran jika seluruh bangsa yang mengenal Beliau mengakuinya sebagai manusia tercerdas dan terpintar di dunia ini. Kepintaran dan kecerdasan¬ma dikagumi di seluruh dunia. Karaeng Patingaloang senang memelihara badak, kuda nil, jerapah, unta, kuda Arab dan kuda Eropa, berbagai jenis antilope, zebra, beliau Juga senang mengoleksi benda-benda yang sukar ditemukan, seperti peta dunia dan kota-kota besar di seluruh dunia. Beliau juga mempunyai lonceng yang sangat besar, sehingga setiap kali berdentang bunyinya dapat didengar bermil-mil jauhnya. Untuk meyakinkan para pedagang atau pelaut bahwa dunia ini bundar, Beliau memesan sebuah globe raksasa yang dikerjakan Joan Bleau selama empat tahun di negeri Belanda. Pada tanggal 13 Februari 1651 pemerintah Belanda menyerahkan pesanan tersebut di Benteng Somba Opu Penyair Belanda yang sangat terke¬nal dan populer ketika itu tak dapat menekan rasa kagumnya, sehingga membuat syair yang penuh pujian sebagai pengantar dalam pengiriman globe tersebut.

RAJA-RAJA DI SULAWESI SELATAN

KERAJAAN LUWU

1. Batara Guru (Londong Mawale) raja pertama
2. Batara Lattu (Putera Batara Guru)
3. Simpurusiang (Putera We Tenriabeng yang bersaudara kembar dengan Sawerigading, cucu dari Batara Lattu)
4. Anakaji (Putera Simpurusiang. Inilah yang kawin dengan putr Majapahit bernama We Tappacina)
5. Tanpa Balusu (Putera Anakaji)
6. Tanra Balusu (Putera Tanpa Balusu)
7. Toappanange (Putera Tanra Balusu)
8. Batara Guru II (Putera Toappanange)
9. Lamariawa (Putera Tanpa Balusu)
10. Datu Risaung Le’bi (Putera Batara Guru II)
11. ManinggoE ri Bajo (Putera Datu Risaung Le'bi'i)
12. Tosangkawana (Kemanakan ManinggoE ri Bajo)
13. Datu Maoge (Kemanakan Tosangkawana)
14. We Tenriawe (Sepupu sekali Datu Maoge)
15. Patiarase' (Putera We Tenriawe. Inilah Raja Luwu pertama yang masuk
Islam)
16. Pati Passaung Sultan Abdullah MatinroE ri Patimang Putera Patiarase'.
la kawin dengan Karaeng Balla Bugisi dari Gowa
17. Petta MatinroE ri Gowa (Putera Pati Passaung)
18. Settiaraja (MatinroE ri Tompo' tika' (Putera Petta Mattiroe ri Gowa
19. MatinroE ri Pilka (Sepupu sekali Settiaraja)
20. Settiaraja (Kedua kali jadi raja)
21. To Palaguna MatinroE ri Langkanana Putera Settiaraja. Raja inilah yang
kawin dengan We Patteketana Daeng Tanisanga (Date Taanete Xlll)
22. Batari Tungke Sultanat Fatimah MattinroE ri Patturu putri To Palaguna)
23. Batari Toja Sultanat Sitti Sainab MatinroE ri Timpuluna sepupu sekali Batari Tungke. la juga menjadi Mangkau di Bone dan Dati di Soppeng, Istri La Patau Matanna Tikka, Raja Bone)
24. We Tenrileleang (Puteri Batari Tungke')
25. La Kaseng MatinroE ri Kaluku BodoE (Sepupu We Tenrileleang)
26. We Tenrileleang kedua kalinya menjadi Datu Luwu)
27. La Tenripeppang (Putera La Kaseng)
28. We Tenriawaru Puteri Latenri Peppang. Kawin dengan Mappoleonro, Datu Soppeng ke 28. (1765-1820)
29. Laoddampero (Putera We Tenriawaru)
30. Patipatau Toappanyompa (Putera Laoddarnpero), MatinroE ri Tomalullu (Putera We Tenriawaru)
32. Iskandar Opu Daeng Pali (Kemanakan Matinro[ ri Tomalullu).
33. Andi Kambo Opu Daeng Risompa MatinroE ri Bintara (Putera Patipatau
Toappanyompa)
34. Andi Djemma (Putera Andi Kambo)
35. Andi Jelling (Paman Andi Djemma)
36. Andi Djemma (Untuk kedua kalinya, setelah Republik Indonesia).

KERAJAAN GOWA

1. Tumanurunga - Puteri Ratu (1300-an).
2. Tumassalangga Baraya (1300-an).
3. I Puang LoE Lembang (1300-an).
4. Tuniyatabanri (1300-an).
5. Karampang ri Gowa (1300-an).
6. Tunatangka' Lopi (1300-an).
7. Batara Gowa Tumenanaga ri Parallakkenna (1400-an).
8. I Pakeretana Tunijallo ri Passukki (1400-an).
9. Tumaparisi' Kallonna (1400-an).
10. I Manrimagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546).
11. I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatta (1565).
12. I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (15651590).
13. I Tepu Karaeng Daeng Parabbung Tunipasulu (1601-1653).
14. I Mangu'rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukan
na (wafat : 15-6-1639).
15. I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung Sultan Malikussaid
Tumenanga ri Papanbatuna (lahir : 11-12-1605, wafat : 6-11-1635).
16. I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangeppe Sultan
Hasanuddin Tumenanga ri Balla' Pangkana (Pahlawan Nasional) ilahir
12-6-1631, wafat : 12-6-1670).
17. a. I Mallawakkang Daeng Mattinri Karaeng Kanjilo Tumenanga ri Passiringanna (1669-1970). Beliau hanya bertugas sebagai penjabat raja,
b. I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir Hamzah Tumenanga ri
Allu (lahir : 31-3-1656, wafat 7-5-1674) 1669-1674.
18. I Mappaosong Daeng Mangewai Karaeng Bisei Tumenanga ri Jakarta
(lahir : 29-11-1654, wafat : 15-3-1681) 1611-1677.
19. I Mappadulung Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil
Tumenanga ri Lakiung (lahir : 18-8-1652, wafat : 1711) 1677-1709.
20. La Pareppa Tussappewali Sultan Ismail Tumenanga ri Somba Opu. (1709-1711).
21. I Mappurangi Sultan Sirajuddin Tumenanga ri Pasi. (1711-1713).
22. I Manrabbia Sultan Najamuddin. (1713)
23. I Mappaurangi Sultan Sirajuddin, Tumenanga ri Pasi (untuk kedua kalinya) thn 1735.
24. I Mallawagau Sultan Abdul Kadir (1735-1742).
25. I Mappababasa Sultan Abdul Kudus (1742-1753).
26. Anas Madina Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Ceylon) (lahir 1747 dan wafat 1795).
27. I Manlisu Jawa Daeng Ri Boko Arung Mampu Tumenanga ri Tompo Balang(1667-1669).
28. I Temmasongeng Karaeng Katangka Sultan Zainuddin Tumenanga ri Malloanging (1778-1810)
29. I Mannawari Karaeng Bontolangkasa/Karaeng Mangngasa Sultan Abdul Hadi wafat pada : 7-5-1810 (1778-1810).
30 I Mappatunru/I Manginyarang Karaeng LembangparangTumenanga ri Katangka (1816-1825).
31. La Oddang Riu Karaeng Katangka Tumenanga ri Suangga (1825-1826).
32. I Kumala Karaeng Lembangparang Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid Tumenaga ri Kakuasanna (Dilantik th. 1844 dan wafat : 30-1-1893). Karena ketika dipilih masih berusia enam tahun, (artinya belum dewasa), sehingga dia diwakili oleh ayahnya, Karaeng Beroanging (1826-1844).
33. I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tumenanga ri Kalabbiranna wafat : 18-5-1895.
34. I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Huzain, Tumenanga Ribunduna (wafat : Desember 1906 di Sidenreng).
35. I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhimuddin Tumenanga ri Sungguminasa (wafat : 1946).
36 Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidid (Raja Gowa terakhir). 1946-1960.

KERAJAAN BONE

1. Mata SilompoE To Manurungnge ri Matajang (1373-1380).
2. La Ummase, putera dari To Manurungnge Rimatajang, dan digelar Petta Panre Bessie (1380-1448).
3. La Saliwu Petta Karampeluwa, kemenakan dari I a Ummase, digelar Pasodowakkae (1448-1518).
4. WeTenrigau Daeng Marowa Arung Majang (1512-1533). Ratu Perempuan Kerajaan Bone ini digelar Makkaleppie, atau Bissu ri Laleng Bili', atau Petta ri Lawelareng. Ratu Bone ini kawin dengan La Tenribali Arung Kaju. Menurut kepercayaan rakyat, baginda tidak wafat tetapi menghilang secara gaib dan digelar Mallajangnge ri Cina.
5. La Tenrisukki, putera dari We Benrigau (1538-1541).
6. La Woloi Bote'e, putera dari La Tenrisukki (1541-1570).
7. La Tenrirawe Bongkangnge, putera dari La Woloi Bote'e, digelar MatinroE ri Gucinna (1570-1586).
8. La Ica, saudara dari La Tenrirawe Bongkangnge, digelar MatinroE ri Addenenna (1586-1604). Beliau seorang raja yang jahat sehingga dibunuh oleh pamannya.
9. La Pattawe Arung Kaju (1604-1609). Beliau cucu dari Benrigau Daeng Marowa Arung Majang Mallajangnge ri Cina Raja Bone ke 4. Ayah La Patau Raja Bone ke 9 ini bernama La Pannaungi ToAppawawoi, juga bersaudara dari La Tenrisukki Raja Bone ke 5, Jadi La Pattaweng adalah kemenakan dari La Tenrisukki raja Bone ke 5. La attaweng tidak mempunyai anak.
10. We Tenrituppu, cucu dari La Wolio Bote'e Raja Bore ke 6, digelar MatinroE ri Sidenreng (1609-1619).
11. La Tenriruwa Sultan Adam, digelar MatinroE ri Bantaeng. Beliau Raja Bone
yang pertama memeluk agama Islam. Memerintah tahun 1609-1611.
12. La Tenripale To Akkepeyang, putera dari La Ica MatinroE ri Addenenna Raja Bone ke 8. Baginda memerintah dari tahun 1611-1631. Baginda kawin dengan Kunange puteri Raja Bone ke 10 We Tenrituppu MatinroE ri Sidenreng, dan digelar MatinroE ri Tallo.
13. La Maddaremmeng, cucu dari Raja Bone ke 8 dan kemenakan Raja Bone ke 12. Pada zaman pemerintahan Baginda, kerajaan Gowa menyerang dan menaklukkan Kerajaan Bone. Baginda digelar ~-1atinroE ri Bukaka (1667-1672).
14. La Tenriaji To Senrima, adik dari La Maddarennmeng Raja Bone ke 13. Baginda memberontak terhadap kerajaan Gowa dan dilanjutkan dalam peperangan. Sekali waktu, tentara Kerajaan Gowa menyerbu Kerajaan Bone dan pasukan-pasukan Bone di bawah pimpinan La Tenriaji To Senrima dapat dihancurkan dan La Tenriaji To Senrima bersama banyak bangsawan Bone dan Soppeng termasuk orang tua dan keluarga dari La Tenritata To Appatunru Arung Palakka Petta Malampe'e Gemme'na ditawan dan diangkut ke Gowa. La Tenriaji To Senrima raja Bone ke 14 diasingkan ke Siang (Pangkajene Kepulauan) dan digelar MatinroE ri Siang (16461650).
15. La Tenritata To Appatunru Arung Palakka Petta Malampe'e Gemme'na Sultan Saaduddin Mangkau ri Bone To Risompae ri Gowa Malebbae Songko'na Arungna Mandurae MatinroE ri Bontoala, raja Bone ke- 15 (1667-1696), tetapi baru dikukuhkan menjadi Raja Bone tanggal 3 Nopember 1672.
16. La Patau Sultan Alimuddin Idris. Baginda adalah kemenakan dari Arung Palakka La Tenritata, dan putera dari We Mappolobambang bersama Pakkokoe putera dari La Maddaremmeng raja Bone ke 13, digelar MatinroE ri Nagauleng. La Patau adalah cucu La Maddaremmeng Raja Bone ke 13. La Patau dikawinkan oleh Arung Palakka La Tenritata pertama dengan puteri Raja Luwu dan kedua dengan puteri Raja Gowa. Dari kedua perkawinan ini, La Patau mermiliki putera-puteri yang kemudian berkuasa di kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan. Sesudah wafat, La Patau digelar MatinroE ri Nagauleng.
17. Bataritojang Sitti Zainab Sultana Zukijasuddin Arung Timurung Datu di Citta, Mangkau di Bone, ini adalah puteri La Patau digelar MatinroE ri Nagauleng dari permaisuri yang dari Luwu. Bataritojang ini juga menjadi Payung di Luwu dan Datu di Soppeng, dan dua kali memerintah, yaitu dari 1714 - 1715 dan dari tahun 1724 - 1748. Waktu wafat digelar MatinroE ri Tippulu'na.
18. La Padangsejati To Appaware Arung Palakka, adalah putera La Patau MatinroE di Nagauleng dari permaisurinya dari Gowa. Jadi baginda adalah saudara se-ayah lain ibu dari Bataritojang Mangkau di Bone ke 17. Baginda juga menjadi Datu di Soppeng, dan setelah wafat digelar MatinroE ri Beula.
19. La Pareppa To Sappewalie, adalah putera La Patau MatinroE ri Nagauleng, se-ayah se-ibu dengan La Padang Sejati mangkau di Bone ke 18, 17201724. Sebelum menjadi Mangkau di Bone telah menjadi Somba di Gowa. Setelah wafat digelar MatinroE ri Somba Opu.
20. La Paongi Appawawoi Arung Mampu. Baginda adalah saudara se-ayah seibu dengan La Padang Sejati Mangkau di Bone ke 18 dan La Pareppa To Sappewalie Mangkau di Bone ke 19. Setelah wafat Baginda digelar MatinroE ri Bisei.
21. Bataritojang Sitti Zainab Sultana Zukijasuddin Arung Timurung. Baginda dua kali menjadi Mangkau di Bone, yaitu Mangkau ke 17 dan ke 21. Setelah wafat digelar MatinroE ri Tippulue.
22. La Tomassonge (La Mappasossong) Jaliluddin Abdul Razak Datu Baringeng. Baginda sauara se-ayah se-ibu dengan La Padang Sejati, La Pareppa To Sappewalie, dan La Panaongi To Appawawoi Arung Mampu, masing-masing menjadi Mangkau di Bone ke 18, ke 19 dan ke 20. Setelah wafat digelar MatinroE ri Mallimongeng.
23. La Tenrituppu Sultan Achmad Saleh Syamsuddin. Baginda adalah cucu dari La Tomassonge MatinroE ri Baringeng, dan memerintah dari tahun 1775-1812. Setelah wafat digelar MatinroE ri Rompegading.
24. To Appatunru Sultan Muhammad Ismail Muhtajuddin. Baginda adalah putera dari La Tenrituppu Achmad Saleh, dan menjadi Mangkau di Bone dari tahun 1812 -1823. Setelah wafat digelar MatinroE ri Lalengbata.
25. We Maning Ratu Arung Data Sultana Saleha Rabiyatuddin. Baginda adalah saudari dari To Appatunru Arung Palakkka Matinmoe ri Lelangbata, dan Baginda Mangkau di Bone dari tahun 1825-1835. Sewaktu Baginda Mangkau di Bone terjadi perang Bone yang pertama, dan Baginda tidak bersuami. Setelah wafat digelar MatinroE ri Kessi - Pangkajene.
26. Mappasiling Arung Panyili Sultan Adam Najamuddin. Beliau bersaudara dengan Mangkau di Bone ke 24 To Appatunru Arung Palakka dan Mangkau di Bone ke 25 We Maning Ratu Arung Data, dan Mangkau di Bone dari tahun 1835-1845. Setelah wafat digelar MatinroE ri Salassa'na.
27. La Parengrengi Sultan Achmad Saleh Muhiddin Arung Pugi. Baginda adalah kemenakan dari Mappasiling Achmad Saleh Arung Panyili Mangkau Bone ke 26 (1845-1857), dan cucu dari Mangkau di Bone ke 23 La Tenrituppu Achmad Saleh MatinroE di Rompegading. Baginda kawin dengan saudara sepupunya yang bernama Besse Kajuara. Baginda wafat pada tanggal 16 Februari 1958 dan digelar MatinroE ri Ajangbetteng.
28. We Tenriwaru Pancaitana Besse Kajuara Mangkau di Bone Datu Suppa Sultana Ummulhadi (1857-1860). Baginda adalah cucu Mangkau Bone ke 23 La Tenrituppu Achmad Saleh MatinroE di Rompegading (Raja Bone ke 23, 1775-18? 2), dan menggantikan suaminya Mangkau di Bone ke 27 La Parenrengi Sultan Achmad Sa!eh Arung Pugi MatinroE ri Ajangbenteng (18451857). Pada masa baginda Mangkau di Bone, terjadi perang Bone ke-11 dan perang Bone ke-3. Pada Waktu Belanda menyerang Pada tanggal 6 Desember 1860 Benteng Alam Passompe, Baginda terpaksa meninggalkannya karna pengkhianatan Achmad Singkerrurukka. Nama lengkap beliau setelah wafat, Pancaiiana Besse Kajuara Tenriaaru Pelaiengngi Passempe MatinroE ri Majennang.
29. Singkerrurukka Arung Palakka Sultan Achmad Idris. Baginda adalah cucu Mangkau di Bone ke 24 To Appatunru Arung Malakka MatinroE di Lalengbata. Baginda Mangkau Bone 11860 - 1871). Setclah wafat digelar MatinroE ri Topaccing .
30. Fatimah Banri Arung Timurung. Baginda adalah puteri dari Singkerrurukka Arung Palakka Sultan Achmad Idris MatinroE ri Topaccing, dan baginda Mangkau di Bone dari tahun 1871-1895. Setelah wafat digelar MatinroE ri Bolampare'na.
31. La Pawawoi arung Segeri. Baginda adalah saudara seayah dengan Mangkau di Bone ke 30 Fatimah Banri (Banrigau) Arung Timurung MatinroE di Bolampare'na, dan Baginda adalah patra dari Mangkau di Bone ke 29 Singkerrurukka Arung Palakka Sultan Achmad Idris MatinroE ri To Paccing. Pada tahun 1895 di usia 60 tahun, La Pawawoi Karaeng Segeri menjadi Mangkau di Bone, dan pada tahun 1905 Belanda menyerang Kerajaan Bone yang disebut Perang Bone ke 4. Ketika itu Baginda ditangkap dan dibuang, pertama ke Bandung dan kemudian dipindahkan ke Batavia. Setelah wafat digelar MatinroE ri Betawi. Makam beliau kini berada di TMP Kalibata, Jakarta.
32. Mappanyukki Sultan Ibrahim. Baginda adalah putera ke 2 dari Sombaya di Gowa ke-34 Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Huzain Tumenanga ri Bundu'na. Mappanyukki adalah Mangkau di Bone ke 32 dari tanggal 2 April 1931-19 Juni 1946. Sesudah wafat pada tanggal 18 April 1967, digelar MatinroE ri Jongae. Baginda dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar.
33. Andi Pabbenteng Daeng Palawa. Diangkat oleh NICA menjadi raja Bone pada 19 Juni1946, dan turun tahta scsudah pengambilalihan kekuasaan cli wilayah Indonesia Timur dari kekuasaan Belanda oleh operasi militerAPRIS 'Gerakan Pertiwi' pada tanggal 26 Mei 1950.

KERAJAAN BARRU

4. I Lippeng Daeng Manakku, wanita, Raja Barru ke 4. Beliau permaisuri La Tenri Tippe To Wallannae Addatuang Sindenreng MatinroE ri Tamantingan.
5. La Mallewai Addatuang Sidenreng, Raja arru ke 5. Beliau putera La Tenri Tippe To Wallannae Addatuang Sindenreng Matinrow ri Tamantingan bersama I Lippeng Daeng Manakku.
6. I Kutana, wanita, Raja Barru ke 6. Beliau permasisuri dari La Mallewai, Raja Barru ke 5.
7. I Rukia Karaeng Kanjene Addatuang Sidenreng, Raja Barru ke 7. Beliau permaisuri dari To Wangangmetta Arung Ajjaling Petta Punggawae ri Bone, puteri La Mallewai, Raja Baru ke 5, bersama I Cabunreng Daeng Takontu Karaeng Sagala.
8. To Appo Addatuang Sidenreng, Raja Barru ke 8. Putera dari To Wangangmetta Arung Ajjaling Petta Punggawac ri Bone bersama I Rukia Karaeng Kanjene Addatuang Sidenreng Raja Barru ke 7.
9. La Makkawaru To Marilaleng Bone, Raja Barru ke 9. Beliau putera dari To Appo Addatuang Sidenreng, Raja Barru ke 8, bersama I Ni'nong Arung Atakka.
10.La Wawo Addatuang Sidenreng, Raja Tempe, Raja Maiwa, dan Raja Barru ke 10. Putera dari To Appo Addatuang Sidenreng Raja Barru ke 8 bersama I Tungke Arung Tempe.
11.To Appasawe Matinrowe ri Agamana, Raja Barru ke 11. Putera dari To Appo Addatuang Sidenreng Raja Barrio ke 8 bersama Besse Leppangeng puteri Arung Palla.
12.To Patarai Sumangerrukka Matinrowe ri Masigi'na, Raja Barru ke 12.
Putra dari To Appasawe Matinrowe ri Agamana, Raja Barru ke 11, bersama Sitti Halijah Arung Paopao puteri La Maddusila Raja Tanete ke 16.
13.Baso Mangempang karaeng Bontosunggu, Raja Barru ke 13. Putera dari To Patarai Sumangngarukka Mattinrowe ri Masigi'na, Raja Barru ke 12, bersama I Baegong Arung macege puteri Sultan Muhammad Ismail Muhtajuddin Raja Bone ke 24.
14.Aisah Tenri Pada Raja Barru ke 14. Puteri dari To Patarai Sumangerrukka Mattiroe ri Masigi’na, Raja Barru ke 12, bersama I Baegong Arung Macege puteri Sultan Muhammad Ismail Muhtajuddin Raja Bone ke-24.
15. Makkarau Petta Bettang Matinrowe ri TanamaridiE, Raja Barru ke 15. Putra dari Baso Mangempang Karaeng Bontosunggu, Raja Barru ke 13 bersama Tonceng Patta Ola.
16.Batari Tojang Raja Barru ke-16 Puteri dari Malingkaan Daeng Nyonri karaeng Katangka Sultan Idris Raja Gowa ke 33.
17.Pa.•.'> \rush Mangcmpang Petta Pandegara, Raja 5_:~~_. , dari .Alakkarau Petta Bettang Matinrowe ri Tanxra.:~ !,c 1 ~, bersama Makkutana Petta Nessa.
18.Jonjo Karaeng Lembangparang Raja Barru ke 18. Putera dari Mahmud Karaeng Beroanging Tomarilaleng Kerajaan Tallo bersama Bataritojang Raja barru ke-16.

Catatan: Sejauh ini, saya tak mendapatkan mama Raja Barru pertama sampai ke tiga. Yang saya dapat hanya Raja keempat sampai terakhir.

AGANG NIONJO DAN KERAJAAN TANETE

1. Datu Ngolla Karaeng Segeri (awal Abad XVI).
2. Pangara Wampang Puang Lolo Ujung.
3. To MatinroE Ribuku Jurunna.
4. Daeng Ngasseng.
5. Daeng Majanna.
6. Torijallo ri Adderenna.
7. Daeng Sinjai. Tanete:
8. To Maburu Limanna.
9. Petta To Sugie atau Petta Pallase IseE.
lO.Petta MatinroE ri Buliana.
11. La Waru Daeng Mattepu.
12.La Sulo Daeng Mattajang.
13.We Patteketana Daeng Tanisanga. Beliau menikah dengan To PalagLina
Matinrowe ri Langkana, putera Setiaraja, Raja Luwu XXI.
14.Sultan Fahruddin Latenrioddang.
15.We Tenrileleang.
16.La Madussila Tola Pangewa (1824).
17. La Patau (1824-1844).
181a Rumpang Megga Dulung Larnuru (1844-1856).
19.Sitti Aisyah We Tenriolle (1856-1910).
20.We Pancaitana BungawaliE Arung Pancana (1910-1926).
21.We Pattekketana Arung Lalolang (1926-1927).
22.Andi Baso Latenrisessu Datu Bakke (1927-1950).

Catatan : Sampal Daeng Sinjai, raja ke-7, nama Kerajaan Tanete masih Kerajaan Agang Nionjo.

KERAJAAN DI SULAWESI SELATAN

Kerajaan-Kerajaan di Su!awesi Selatan pada umumnya berjiwa demokratis. Ini dapat dilihat dari sistim pcmerintahan dan ikatan persekutuan atau persaudaraannya sebagaimana bisa kita lihat dalam sejumlah aliansi antar kerajaan-kerajaan yang ada di sini. Contohnya TelluE Bocco atau "tiga kerajaan terbesar", yakni Kerajaan Luwu, Kerajaan Gowa, dan Kerajaan Bane. Kerajaan Luwu yang rajanya digelari Payung artinya "yang dipayungi", memiliki sistim pemerintahan karajaan yang terdiri dari tujuh kerajaan lili, kerajaan hawahan dan 12 Ade, Yang berfungsi sebagai palemen. Kerajaan Gowa, rajanya digelari Somba artinya "yang disembah", mempunyai sistim pemerintahan kerajaan yang terdiri dari sembilan kerajaan lili yang bernama Bate Salapang yang artinya sembilan pemerintah adat'. Bate Salapang ini diketuai oleh Tumabicara Butta atau hakim negara. Sedangkan anggota-anggotanya adalah:

Tumarilaleng Tua, Tumarilaleng Lalo, Karaeng Manuju, Karaeng Parigi, Karaeng Pattalassang, Karaeng Borisalla, Gallarang Mangngasa, Gallarang Tombolo, Gallarang BorongloE. Kerajaan Bone, rajanya digelari mangkau artinya "yang berbuat", dengan sistem pemerintahan kerajaan yang terdiri dari tujuh kerajaan lili yang dinamakan Ade' Pitue “tujuh pcmerintahan adat" yaitu Arung Ujung, ArungTanete Riattang, Arung Ta', Arung Tibojong, Arung Ponceng, Arung Tanete Riawang, Arung Macege. Arung Macege yang dituakan. Selain TelluE Bocco, ada lagi aliansi dari tiga kerajaan yang cukup banyak berperan di Sulawesi Selatan. Dikenal dengan nama TellumpoccoE, dan terdiri dari Kenjam Bone, Kerajaan Wajo, dan Kerajaan Soppeng. Dan yang dituakan di antara aliansi ini adalah Kerajaan Bone. Kerajaan Wajo diperintah tiga orang raja yakni Petta Ranreng Bentempola, Petta Ranreng Tua, dan Petta Ranreng Talottenreng. Masing-masing Petta Ranreng ini mempunyai wakil dengan simbol benderanya masing-masing. Wakil Petta Ranreng Bentempola bersimbol bendera merah dan digelar Petta Pilla'e. Wakil Petta Ranreng Tua, bersimbol bendera kuning dan digelar Petta Cakkuridie. Wakil Petta Ranreng Talottenreng bersimbol bendera berwarna-warni dan digelar Petta Pattolae. Ketiga wakil Petta Ranreng ini disebut pula Tellu Bale Loppo atau "tiga adat besar". Sedangkan ketiga Ranreng bersama tiga wakilnya disebut Petta Ennengnge yang artinya "enam raja yang memerintah" di Kerajaan Wajo, dan diketuai oleh Petta Ranreng Bettempola. Selain TelluE Bocco dan Tellumpoccoe, terdapat pula aliansi "yang bernama Tellu Mabbatu Papeng atau "tiga kerajaan di dataran rendah”, Kerajaan ini terletak di bagian barat Sulawesi Selatan, dengan anggotanya : Kerajaan Barru yang rajanya bergelar Arung; Kerajaan Tanete yang rajanya datuk dan kerajaan Soppeng Riaja yang rajanya bergelar Arung, Tellu Mabbatu Papeng ini diketua Raja Barru. Terdapat pula aliansi lima kerajaan yang terletak di sebelah Barat Danau Tempe dan dikenal dengan nama Lima Ajatappareng. Anggotanya adalah Kerajaan Suppa dengan rajanya yang digelar Datu Suppa, Kerajaan Mallusettasi yang digelar Arung Mallusettasi, Kerajaan Sawitto dengan rajanya bergelar Addatuang Sawitto, Kerajaan Sidenreng dengan rajanya bergelar Addatuang Sidenreng dan Kerajaan Rappang dengan rajanya bergelar Arung Rappang, lima ajatappareng ini diketuai Addatuang Sidenreng. Kemudian, ada lagi aliansi tujuh kerajaan yang terletak dilereng gunung dan dikenal dengan nama Pitu Massenrempulu atau “tujuh kerajaan dilereng gunung, Anggotanya adalah: Kerajaan Enrekang dengan rajanya Arung Enrekang, Kerajaan Maluwa' dengan rajanya bergelar Arung Maluwa’ Kerajaan Bonto Batu dengan rajanya bergelar Arung Bontobatu, Kerajaan Kassa dengan rajanya bergelar Arung Kassa, Kerajaan Alla dengan rajama bergelarArung Alla, Batu Lappa dengan rajanya bergelar Arung Batulappa, dan Kerajaan Maiwa dengan rajanya bergelar Arung Maiwa. Ketua dari Pitu Massenrempulu ini adalah Arung Enrekang, Selain itu, masih ada tujuh kerajaan yang terletak di muara sungai dan dikenal dengan nama Pitu Babanna Salo. Anggotanya adalah: Kerajaan Balangnipa atau Tinambung dengan rajanya bergelar Maraddia Balannipa, Kerajaan Majene dengan rajanya bergelar Maraddia Majene, Kerajaan Pamboang dengan rajanya bergelar Maraddia Pamboang, Kerajaan Cenrana yang rajanya Maraddia Cenrana, Kerajaan Tappalang yang rajanya bergelar Maraddia Tap-palang, Kerajaan Binuang yang rajanya bergelar Maraddia Binuang, dan kerajaan Mamuju, yang rajanya bergelar Maraddia Mamuju. Pilu Babanna Salo ini diketuai Maraddia Balannipa. Yang tidak kalah pentingnya adalah aliansi tiga kerajaan di Tana Toraja yang dikenal dengan Tallu Lembangna atau “tiga daerah" yang terdirl dari Kerajaan Makale, Kerajaan Sangalla, dan Kerajaan Menkende. Kerajaan Sangallah yang dituakan. Demikianlah keadaan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan yang menganut sistim demokrasi, bukan monarki. Patut diketahui, Pada enam kerajaan besar di Sulawesi Selatan itu masing-masing dikenal mempunyai seorang cerdik-pandai dan peramal yang umunnya ditempatkan sebagai penasehat raja. Pengetahuan sang cerdik pandai atau ahli nujum itu selalu tertulis di alas lontar ataupun kertas sebagai penuntun bagi raja dalam mengambil keputusan dan kebijakan bagi rakyat dan pemerintahannya. `Manusia-manusia cerdik pandai yang luar biasa tersebut adalah: Tociwung Tau Tongengnge di Luwu, To Waniaga Karaeng Patingaloang dan Boto Lempangang di Gowa, Kajao Laliddo di Bone, To Maccae Arung Bila di Kerajaan Soppeng, Puang Maggalatung di Wajo, dan Nene Allomo di Kerajaan Sidenreng.

SUKU BANGSA INDONESIA

A
Suku Aceh di NAD : Banda Aceh, Aceh Besar
Suku Alas di NAD : Aceh Tenggara
Suku Alordi NTT : Kabupaten Alor
Suku Ambon di Maluku : Kota Ambon
Suku Ampana
Suku Anak Dalam (Anak Rimbo) di Jambi
Suku Aneuk Jamee di NAD : Aceh Selatan, Aceh Barat Daya
Suku Arab-Indonesia
Suku Aru di Maluku : Kepulauan Aru
Suku Asmat di Papua

B
Suku Bali di Bali terdiri :
Suku Bali Majapahit di sebagian besar Pulau Bali
Suku Bali Aga di Karangasem dan Kintamani
Suku Balantak di di Sulawesi Tengah
Suku Bugis di Sulawesi Selatan

Suku Banggai di Sulawesi Tengah : Kabupaten Banggai Kepulauan
Suku Baduy di Banten
Suku Bajau di Kalimantan Timur
Suku Bangka di Bangka Belitung
Suku Banjar di Kalimantan Selatan
Suku Batak di Sumatera Utara terdiri :
Suku Karo Kabupaten Karo
Suku Mandailing di Mandailing Natal
Suku Angkola di Tapanuli Selatan
Suku Toba di Toba Samosir
Suku Pakpak di Pakpak Bharat
Suku Simalungun di Kabupaten Simalungun
Suku Batin di Jambi
Suku Bawean di Jawa Timur : Gresik
Suku Belitung di Bangka Belitung
Suku Bentong
Suku Berau di Kalimantan Timur : Kabupaten Berau
Suku Betawi di Jakarta
Suku Bima NTB : Kota Bima
Suku Boti
Suku Bolang Mongondow di Sulawesi Utara : Kabupaten Bolaang Mongondow
Suku Bugis di Sulawesi Selatan
Orang Bugis Pagatan, di Kusan Hilir, Tanah Bumbu, Kalsel
Suku Bungku di Sulawesi Tengah : Kabupaten Morowali
Suku Buru di Maluku : Kabupaten Buru
Suku Buol di Sulawesi Tengah : Kabupaten Buol
Suku Buton di Sulawesi Tenggara : Kabupaten Buton dan Kota Bau-Bau
Suku Bonai di Riau : Kabupaten Rokan Hilir

D
Suku Damal di Mimika
Suku Dampeles
Suku Dani
Suku Dayak terdiri :
Suku Punan
Suku Kanayatn di Kalimantan Barat
Suku Ibandi Kalimantan Barat
Suku Mualang di Kalimantan Barat : Sekadau, Sintang
Suku Bidayuh di Kalimantan Barat : Sanggau
Suku Mali di Kalimantan Barat
Suku Seberuang di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Sekujam di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Sekubang di Kalimantan Barat : Sintang
Suku Ketungau di Kalimantan Barat
Suku Desa di Kalimantan Barat
Suku Kantuk di Kalimantan Barat
Suku Ot Danum atau Dohoi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat
Suku Limbai di Kalimantan Barat
Suku Kebahan di Kalimantan Barat
Suku Pawan di Kalimantan Barat
Suku Tebidah di Kalimantan Barat
Suku Bakumpai di Kalimantan Selatan Barito Kuala
Orang Barangas di Kalimantan Selatan Barito Kuala
Suku Bukit di Kalimantan Selatan
Orang Dayak Pitap di Awayan, Balangan, Kalsel
Suku Dayak Hulu Banyu di Kalimantan Selatan
Suku Dayak Balangan di Kalimantan Selatan
Suku Dusun Deyah di Kalimantan Selatan : Tabalong
Suku Ngaju di Kalimantan Tengah : Kabupaten Kapuas
Suku Siang Murung di Kalimantan Tengah : Murung Raya
Suku Bara Dia di Kalimantan Tengah : Barito Selatan
Suku Ot Danum di Kalimantan Tengah
Suku Lawangan di Kalimantan Tengah
Suku Dayak Bawo di Kalimantan Tengah : Barito Selatan
Suku Tunjung, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Benuaq, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Bentian, Kutai Barat, rumpun Ot Danum
Suku Bukat, Kutai Barat
Suku Busang, Kutai Barat
Suku Ohong, Kutai Barat
Suku Kayan, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
Suku Bahau, Kutai Barat, rumpun Apo Kayan
Suku Penihing, Kutai Barat, rumpun Punan
Suku Punan, Kutai Barat, rumpun Punan
Suku Modang, Kutai Timur, rumpun Punan
Suku Basap, Bontang-Kutai Timur
Suku Ahe, Kabupaten Berau
Suku Tagol, Malinau, rumpun Murut
Suku Brusu, Malinau, rumpun Murut
Suku Kenyah, Malinau, rumpun Apo Kayan
Suku Lundayeh, Malinau
Suku Pasir di Kalimantan Timur : Kabupaten Pasir
Suku Dusun di Kalimantan Tengah
Suku Maanyan di Kalimantan Tengah : Barito Timur
Orang Maanyan Paju Sapuluh
Orang Maanyan Paju Epat
Orang Maanyan Dayu
Orang Maanyan Paku
Orang Maanyan Benua Lima Maanyan Paju Lima
Orang Dayak Warukin di Tanta, Tabalong, Kalsel
Suku Samihim, Pamukan Utara, Kotabaru, Kalsel
Suku Dompu NTB : Kabupaten Dompu
Suku Donggo
Suku Duri di Sulawesi Selatan

E
Suku Eropa-Indonesia (orang Indo atau peranakan Eropa-Indonesia)

F
Suku Flores di NTT : Flores Timur

G
Suku Gayo di NAD : Gayo Lues Aceh Tengah Bener Meriah
Suku Gorontalo di Gorontalo : Kota Gorontalo
Suku Gumai di Sumatera Selatan : Lahat
Suku Komering di Sumatera Selatan : Baturaja
Suku Semendo di Sumatera Selatan : Muara Enim
Suku Lintang di Sumatera Selatan : Lahat

I
Suku India-Indonesia

J
Suku Banten di Banten
Suku Cirebon di Jawa Barat : Kota Cirebon
Suku Jawa di Jawa Tengah, Jawa Timur
Suku Tengger di Jawa Timur
Suku Osing di Jawa Timur : Banyuwangi
Orang Samin di Jawa Tengah : Purwodadi
Suku Jambi di Jambi : Kota Jambi

K
Suku Kaili di Sulawesi Tengah : Kota Palu
Suku Kaur di Bengkulu : Kabupaten Kaur
Suku Kayu Agung di Sumatera Selatan
Suku Kerinci di Jambi : Kabupaten Kerinci
Suku Komering di Sumatera Selatan : Kabupaten Ogan Komering Ilir
Suku Konjo Pegunungan
Suku Konjo Pesisir
Suku Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan
Suku Kulawi di Sulawesi Tengah
Suku Kutai di Kalimantan Timur : Kutai Kartanegara
Suku Kluet di NAD : Aceh Selatan
Suku Krui di Lampung

L
Suku Laut
Suku Lampung di Lampung
Suku Lematang di Sumatera Selatan
Suku Lembak
Suku Lintang
Suku Lom
Suku Lore
Suku Lubu
Suku Karo Sumatera Utara

M
Suku Madura di Jawa Timur
Suku Makassar di Sulawesi Selatan : Kota Makassar
Suku Mamasa (Toraja Barat) di Sulawesi Barat : Kabupaten Mamasa
Suku Mandar Sulawesi Barat : Polewali Mandar
Suku Melayu
Suku Melayu Riau di Riau
Suku Melayu Tamiang di NAD : Aceh Tamiang
Suku Mentawai di Sumatera Barat : Kabupaten Kepulauan Mentawai
Suku Minahasa di Sulawesi Utara : Kabupaten Minahasa terdiri 9 subetnik :
Suku Babontehu
Suku Bantik
Suku Pasan Ratahan
Suku Ponosakan
Suku Tonsea
Suku Tontemboan
Suku Toulour
Suku Tonsawang
Suku Tombulu
Suku Minangkabau
Suku Mori
Suku Muko-Muko di Bengkulu : Kabupaten Mukomuko
Suku Muna di Sulawesi Tenggara : Kabupaten Muna

N
Suku Nias di Sumatera Utara : Kabupaten Nias, Nias Selatan

O
Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur
Suku Ogan di Sumatera Selatan

P
Suku Papua/Irian
Suku Asmat di Kabupaten Asmat
Suku Biak di Kabupaten Biak Numfor
Suku Dani
Suku Ekagi
Suku Amungme di Mimika
Suku Bauzi
Suku Arfak di Manokwari
Suku Kamoro di Mimika
Suku Palembang di Sumatera Selatan : Kota Palembang
Suku Pamona di Sulawesi Tengah : Kabupaten Poso
Suku Pasemah di Sumatera Selatan
Suku Pesisi di Sumatera Utara : Tapanuli Tengah
Suku Pasir di Kalimantan Timur : Kabupaten Pasir

R
Suku Rawa
Suku Rejang di Bengkulu : Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong
Suku Rote di NTT : Kabupaten Rote Ndao

S
Suku Saluan di Sulawesi Tengah
Suku Sambas (Melayu Sambas) di Kalimantan Barat : Kabupaten Sambas
Suku Sangir di Sulawesi Utara : Kepulauan Sangihe
Suku Sasak di NTB, Lombok
Suku Sekak Bangka
Suku Sekayu di Sumatera Selatan
Suku Semendo di Bengkulu
Suku Serawai di Bengkulu: Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kabupaten Seluma
Suku Simeulue di NAD : Kabupaten Simeulue
Suku Sigulai di NAD : Kabupaten Simeulue bagian utara
Suku Sumbawa Di NTB : Kabupaten Sumbawa
Suku Sumba di NTT : Sumba Barat, Sumba Timur
Suku Sunda di Jawa Barat

T
Suku Talaud di Sulawesi Utara : Kepulauan Talaud
Suku Talang Mamak di Riau : Indragiri Hulu
Suku Tamiang di Aceh : Kabupaten Aceh Tamiang
Suku Tengger di Jawa Timur Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo lereng G. Bromo
Suku Ternate di Maluku Utara : Kota Ternate
Suku Tidore di Maluku Utara : Kota Tidore
Suku Timor di NTT, Kota Kupang
Suku Tionghoa-Indonesia
Orang Cina Parit di Pelaihari, Tanah Laut, Kalsel
Suku Tojo di Sulawesi Tengah : Kabupaten Tojo Una-Una
Suku Toraja di Sulawesi Selatan : Tana Toraja
Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara : Kendari
Suku Toli Toli di Sulawesi Tengah : Kabupaten Toli-Toli
Suku Tomini di Sulawesi Tengah : Kabupaten Parigi Moutong

U
Suku Una-una di Sulawesi Tengah : Kabupaten Tojo Una-Una

W
Suku Wolio di Sulawesi Tenggara: Buton
(wikipedia)
 

© Copyright Towarani 1407 2010 -2012 | TOWARANI Teluk Bone | Powered by Login.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...