TOWARANI

TOWARANI

TOWARANI

Humor Gallery

TOWARANIN

T O W A R A N I

TOWARANI

TOWARANI 1407

TOWARANI

TOWARANI

Berita Terkini :

‘MELIHAT’ TANPA MATA

Beberapa tahun lalu, perangkat canggih bernama batcane, yang berarti tongkat kelelawar, telah mendapatkan sejumlah penghargaan bergengsi di Eropa. Tongkat istimewa macam apakah itu, apa kegunaannya, dan siapakah yang merancangnya? Sebelum mengulas jawaban pertanyaan tersebut, ada baiknya terlebih dahulu kita selami ilham di balik perangkat yang sekarang beralih nama menjadi UltraCane ini: kelelawar...
Kelelawar merupakan makhluk yang sangat menarik. Yang paling hebat dari keahliannya adalah kemampuan luar biasa dalam menentukan arah terbangnya. Kemampuan mengindera tempat dan benda dengan suara yang terpantul (gema) pada kelelawar ditemukan melalui serangkaian percobaan oleh para ilmuwan. Mari kita simak lebih dekat percobaan-percobaan tersebut untuk mengungkap rancangan yang luar biasa pada makhluk ini.
Pada percobaan pertama, seekor kelelawar ditempatkan di sebuah ruangan gelap gulita. Di salah satu sudut ruangan ini, seekor lalat ditempatkan sebagai mangsa untuk sang kelelawar. Mulai saat itu, segala hal yang terjadi di ruangan tersebut dipantau dengan kamera-kamera yang mampu melacak di kegelapan malam hari. Begitu lalat terbang, kelelawar yang awalnya ditempatkan di sudut lain dalam ruangan ini dengan cepat bergerak langsung ke tempat lalat berada dan menangkapnya. Dari percobaan ini disimpulkan bahwa kelelawar tersebut memiliki indera sangat tajam dalam hal kepekaan, sekalipun keadaannya gelap gulita. Meskipun begitu, apakah kepekaan kelelawar ini dikarenakan oleh indera pendengaran? Ataukah ia memiliki penglihatan yang terang di malam hari?
Untuk menjawab pertanyaan ini, percobaan kedua dilakukan. Pada suatu sudut di ruangan yang sama, sekelompok ulat bulu diletakkan dan ditutupi selembar koran. Begitu dilepaskan, kelelawar tidak membuang-buang waktu untuk mengangkat lembaran koran tersebut dan memakan ulat-ulat tadi. Hal ini membuktikan, kemampuan penentuan arah milik kelelawar tidak ada kaitannya dengan indera penglihatan.
Para ilmuwan melanjutkan percobaan mereka terhadap kelelawar: sebuah percobaan baru dilakukan di ruangan yang berbentuk lorong panjang. Pada salah satu ujung lorong terdapat seekor kelelawar dan di ujung lainnya ada sekelompok kupu-kupu. Di samping itu, serangkaian dinding-dinding penyekat disusun berderet dan tegak lurus terhadap dinding lorong tersebut. Di tiap penyekat, ada satu lubang tunggal yang cukup besar bagi kelelawar untuk terbang melewatinya. Akan tetapi, lubang-lubang ini ditempatkan pada titik berbeda di setiap dinding penyekat. Dengan demikian, kelelawar harus terbang dengan jalur berliku melaluinya sebelum mencapai kupu-kupu di ujung lainnya.
Para ilmuwan memulai pengamatannya segera setelah kelelawar dilepaskan ke dalam lorong gelap tersebut. Ketika kelelawar sampai pada penyekat pertama, ia menentukan tempat lubangnya dengan mudah dan melewatinya dengan baik. Hal yang sama terpantau di seluruh dinding penyekat: kelelawar terlihat tidak hanya tahu di mana penyekat berada melainkan juga di mana tepatnya lubang berada. Setelah melalui lubang terakhir, sang kelelawar pun mencapai kupu-kupu, dan mengisi perut dengan hasil tangkapannya.
Terpesona dengan apa yang mereka amati, para ilmuwan memutuskan melakukan percobaan terakhir untuk memahami tingkat kepekaan penginderaan kelelawar. Tujuannya kali ini adalah untuk menentukan batas kemampuan penginderaan kelelawar lebih jelas. Sekali lagi, lorong panjang disiapkan dan kawat baja bergaris tengah sekitar 0,6 mm, atau setipis beberapa helai rambut, digantungkan dari atap hingga terjulur ke lantai lorong. Kawat-kawat ini ditempatkan secara acak di seantero ruang lorong. Para peneliti semakin terkagum, karena sang kelelawar menyelesaikan penerbangannya tanpa terantuk pada satu rintangan kawat pun. Kemampuan terbang ini menunjukkan, kelelawar mampu mengenali rintangan setipis 0,6 mm.
Penelitian setelahnya mengungkap bahwa kemampuan penginderaan luar biasa kelelawar terkait dengan perangkat yang disebut echolocation (ekolokasi) pada tubuh kelelawar. Ekolokasi adalah teknik menentukan keberadaan tempat dan benda-benda dengan menggunakan gema (pantulan suara). Untuk menentukan keberadaan benda-benda di sekitarnya, termasuk benda hidup, kelelawar memancarkan suara berfrekuensi tinggi. Tatkala mengenai benda-benda tersebut, gelombang suara ini lalu terpantul kembali ke arah kelelawar. Meskipun tidak terdengar oleh manusia, pantulan suara ini dapat ditangkap dan diindera oleh kelelawar, sehingga memungkinkannya mendapatkan sebuah gambaran atau "peta" lingkungan sekitarnya. Jadi, penginderaan kelelawar atas seekor lalat dimungkinkan oleh adanya suara yang dipantulkan kembali pada kelelawar dari lalat tersebut.
Kelelawar yang menentukan letak dengan gema ini mengingat setiap gelombang suara yang dikeluarkannya dan membandingkan yang asli dengan gema yang kembali kepadanya. Waktu yang habis antara dikeluarkannya suara dengan diterimanya gema yang datang memberikan penginderaan dan penentuan yang tepat mengenai jarak sasaran dari sang kelelawar. Sebagai contoh, pada percobaan ketika kelelawar menangkap ulat-ulat di lantai, kelelawar mengindera ulat dan bentuk ruangan dengan memancarkan suara bernada tinggi dan mengindera sinyal-sinyal yang terpantul. Lantai memantulkan suara tersebut, sehingga kelelawar dapat menentukan jaraknya terhadap lantai. Sebaliknya, ulat bulu yang berada di lantai berjarak sekitar 0,5 - 1 cm lebih dekat ke kelelawar daripada jauhnya dengan lantai, karena permukaan atas tubuh ulat berjarak 0,5 – 1 cm dari permukaan lantai tempat sang ulat berada. Di samping itu, sang ulat melakukan gerakan-gerakan kecil dan ini pada akhirnya mengubah frekuensi yang terpantul. Dengan cara inilah kelelawar mampu menentukan keberadaan ulat bulu di lantai. Ia memancarkan sekitar 20 ribu gelombang per detik dan mampu mengenali semua suara yang terpantul. Bahkan, ketika ia melakukan hal ini, kelelawar itu sendiri pun dalam keadaan terbang.
Penelitian yang seksama atas semua kenyataan ini dengan jelas mengungkap rancangan yang hebat dalam penciptaan kelelawar. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab Allah, sang Pencipta kelelawar, memiliki Pengetahuan dan Keahlian dalam mencipta tanpa tara. Allah tidak perlu contoh dalam mencipta apa pun sekehendakNya, karena Dialah Al Baadi, Pencipta paling pertama tanpa contoh. Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta.•


MATA YANG BERCAHAYA

Kalian tidak asing lagi dengan binatang manis lucu bernama kucing. Meskipun kelihatan manja dan ingin disayang, kucing adalah binatang yang mandiri, dan hidup tanpa tergantung orang lain. Mereka tidak pernah menyerah pada keinginan pemiliknya, sebagaimana dilakukan oleh anjing piaraan. Seperti yang mungkin kalian sering lihat, kucing mengeong bila merasa lapar, menggesekkan badannya ke kakimu bila ingin di belai, mendengkur dengan senangnya bila dielus dan maksud-maksud lain dengan aneka tingkah laku mereka.

Mata yang Menyala di Kegelapan
Tahukah kalian bahwa kucing memiliki pandangan sempurna pada malam hari? Ya, bahkan dalam tempat yang temaram binatang berbulu ini dapat melihat. Allah telah menciptakan mata mereka berbeda dari mata-mata lainnya. Dalam gelap pupil matanya membesar dan membulat untuk menerima cahaya sebanyak mungkin. Hal ini menjadikan penglihatannya tajam.
Disamping itu, mata kucing memiliki lapisan tambahan di belakang retinanya. Menembus retina tersebut, cahaya mencapai lapisan ini dan dipantulkan kembali ke retina. Cahaya melewati retina dua kali karena lapisan ini memantulkan cahaya kembali. Dengan demikian, tidak seperti manusia, kucing dapat melihat dengan sangat jelas di tempat temaram maupun gelap. Selain itu, mata kucing tampak menyala pada malam hari. Hal ini dikarenakan lapisan tambahan tersebut, memantulkan cahaya layaknya sebuah cermin. Pantulan cahaya inilah yang membuat mata kucing terlihat menyala.
Ada sesuatu yang istimewa pada keempat kaki kucing. Apakah itu? Saat membelai-belai sayang seekor kucing, kalian tidak khawatir akan dilukai oleh kuku di kakinya. Akan tetapi dalam keadaan bahaya, kaki-kaki kecil ini berubah menjadi cakar buas. Yang membuatnya berbahaya adalah kuku tajam yang tersembunyi di balik telapak kakinya.
Keistimewaan lain pada kaki kucing adalah, keempat kaki tersebut selalu dapat menopang tubuh kucing ketika jatuh. Kalian telah tahu bahwa kucing selalu jatuh di atas keempat kakinya, sekalipun mereka jatuh dari tempat tinggi. Hal ini terjadi karena mereka menggunakan ekornya untuk menjaga keseimbangan ketika mereka jatuh, dan dengannya menyetel pusat gravitasi tubuh mereka dan mendarat di atas kakinya.
Yang memberikan mereka sifat yang akan menjamin keamanan binatang yang suka memanjat pohon atau berkeliaran di tempat yang tinggi adalah Tuhan Yang Maha Perkasa, Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

BERTANI DI KOTA BAWAH TANAH

Kota-kota modern terbentuk ketika jutaan manusia berkumpul bersama. Manusia selalu merasakan perlunya aturan dan hukum untuk menjamin ketentraman dan keamanan hidup mereka. Tanpanya, kedamaian hidup takkan mungkin terwujud.

Sisi lain tentang kehidupan masyarakat modern adalah sifat mementingkan diri sendiri. Setiap anggota masyarakat memiliki tujuan dan rencana hidup sendiri. Kebanyakan mereka mendahulukan kepentingan pribadi sebelum yang lain. Kepentingan masyarakat dan orang lain selalu dinomorduakan. Sifat tercela ini menimbulkan bencana kemiskinan, kelaparan dan tuna wisma di seluruh dunia.

Marilah kita bayangkan sebuah kota besar, dengan ratusan ribu penduduk yang hidup di dalamnya. Namun, tak satu pun yang mementingkan diri sendiri. Sebaliknya, mereka senantiasa mendahulukan kepentingan masyarakat dan pihak lain. Bayangkan, setiap orang bekerja dengan pengorbanan diri luar biasa, tanpa sedikit pun keinginan untuk didahulukan. Bayangkan, di tempat ini tak pernah ada perselisihan. Masyarakat seperti ini mungkin di luar bayangan manusia. Namun masyarakat semacam ini benar-benar ada di bumi. Bahkan, mereka ada di mana-mana. Makhluk hidup dengan tatanan masyarakat menakjubkan seperti ini adalah semut.

Semut hidup dalam koloni beranggotakan ratusan ribu, bahkan jutaan ekor. Setiap semut dalam koloni melaksanakan kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya. Tak satu pun mempermasalahkan jabatan ataupun tugasnya. Yang utama adalah kelangsungan hidup keseluruhan koloni di mana mereka tinggal. Untuk tujuan ini, tiap-tiap mereka rela mengorbankan nyawa bila perlu. Tak ditemui seekor semut pun yang kelaparan atau tak memiliki tempat tinggal. Ini karena di antara mereka terdapat kerjasama, keakraban, dan rasa berbagi yang besar. Setetes air pun dinikmati bersama. Makanan dikumpulkan dan disimpan di dalam sarang untuk dibagi dan dinikmati bersama. Benar-benar tidak ada sifat mementingkan diri sendiri dalam masyarakat semut. Tak satu pun yang diterlantarkan. Masing-masing menjadi bagian dari sebuah tatanan raksasa. Masing-masing mencurahkan segenap pengabdiannya kepada bagian yang dibebankan kepadanya. Dengan kehidupan dan tatanan masyarakat yang jauh lebih baik dari manusia, semut adalah bukti kesempurnaan ciptaan Allah.

Teknologi budidaya jamur

Terdapat sejenis semut yang memiliki kebiasaan memotong dedaunan. Sarang semut pemotong daun ini dapat mencapai kedalaman 5 meter ke bawah tanah dengan lebar 7 meter. Mereka membangun ratusan lorong serta bilik di dalamnya, dan mengeruk serta mengangkut hingga sekitar 40 ton tanah. Arsitektur sarang mereka merupakan keajaiban tersendiri.

Semut tidak memakan dedaunan yang telah dipotongnya, karena mereka hanya memakan sejenis jamur tertentu. Lalu untuk apakah dedaunan tersebut jika bukan untuk dimakan? Jawabannya sungguh menarik. Mereka menggunakannya sebagai ‘bahan baku’ bercocok tanam. Mereka menumbuhkan jamur dengan ‘bahan baku’ daun tersebut.

Untuk tujuan ini, mereka menyiapkan ratusan lahan pertanian jamur di dalam sarang. Untuk menumbuhkan jamur, semut mengatur suhu, kelembaban dan ukuran lahan secara cermat. Ini layaknya rumah kaca yang kita gunakan untuk bercocok tanam sepanjang tahun.

Para semut pekerja menyerahkan dedaunan yang dipotongnya kepada semut lain yang bekerja di ladang jamur. Semut yang menerimanya lalu membersihkan dedaunan dari kuman penyakit sebelum digunakan. Ada alasan penting mengapa ini dilakukan. Masuknya jamur tak dikenal atau bakteri ke dalam sarang dapat berakibat mematikan. Hal ini dapat menyebarkan penyakit dalam koloni beranggotakan 500 ribu semut. Tapi Allah telah menciptakan perangkat istimewa yang melindungi mereka. Bahan bersifat anti-kuman (antibiotik) dihasilkan dari tubuh semut. Dengan cara ini, tak ada bakteri yang tertinggal pada daun.

Seperti halnya kita, semut ternyata juga membasmi bakteri. Obat antibiotik dibuat di laboratorium untuk keperluan ini. Namun antibiotik yang dihasilkan semut jauh lebih ampuh, dan semut telah menggunakannya selama jutaan tahun. Tentu saja makhluk kecil ini tidak tahu-menahu tentang bakteri dan zat antibiotik penghambat perberkembangbiakan bakteri. Allah-lah Pencipta perangkat sempurna ini; dengannya, tak satu bakteri pun dapat hidup dalam tubuh semut maupun di dalam sarangnya.

Seusai tahap pembersihan kuman, semut lalu memotong-motong daun beramai-ramai. Setelah pemotongan daun hingga ukuran yang lebih kecil, kini giliran semut paling mungil untuk memulai pekerjaannya. Semut ini hanya berukuran 2 milimeter, layaknya sebutir pasir. Mereka menghabiskan seluruh hidupnya di bilik kecil bawah tanah ini Mereka mengunyah dedaunan hingga menjadi bubur dan meratakannya ke lantai lahan pertanian, sebagai lahan subur tempat menumbuhkan jamur. Lalu mereka menyemai jamur di atasnya.

Memanen untuk saudaranya

Dalam 24 jam, dedaunan tersebut kehilangan seluruh warna hijaunya. Hingga keesokan hari, seluruh permukaannya telah tertutupi jamur putih. Panen pun langsung dimulai. Para semut yang memanen lebih mengutamakan rekan mereka daripada diri mereka sendiri. Mereka memberikan jamur yang mereka panen kepada semut pekerja. Semut pemanen memberikan cairan bergizi yang terkandung dalam jamur kepada semut pekerja yang bertugas di bagian lain sarang Dengan cara ini, kebutuhan pakan seluruh semut dapat terpenuhi, dari semut pemotong daun di luar sarang, hingga mereka yang membuat bubur daun.

Lima ratus ribu semut bekerja tanpa henti dengan keteraturan dan kerjasama sempurna. Setelah semua jamur habis dipanen, yang tertinggal hanyalah sisa dedaunan, dan ini perlu dibersihkan. Para pekerja membuang setiap serpihan kecil daun hingga tak tersisa lagi kotoran di bilik pertanian. Sisa-sisa daun dibuang cukup jauh dari sarang. Para pekerja keras ini tak mengenal istirahat ataupun keluh-kesah.

Inilah sekelumit fenomena nyata di dunia semut yang sepatutnya menjadi bahan renungan kita, manusia, yang seringkali lebih banyak berpikir untuk diri sendiri. Fenomena yang membuka mata hati kita akan kehebatan Pencipta semut, Allah Yang Mahaperkasa.


PLANET

Angkasa luar adalah ruang hampa tak bertepi. Hingga kini, rahasianya masih tak terungkap oleh ilmu pengetahuan. Di dalamnya terdapat tatanan sempurna berupa miliaran galaksi, bintang, planet, komet, asteroid serta awan gas dan debu. Semua benda langit ini bergerak bersama dengan keselarasan sempurna. Galaksi Bima Sakti merupakan salah satu gugusan bintang raksasa yang di dalamnya terdapat Tata Surya kita. Marilah kita pelajari bersama tatanan maha luas ini dari satu ujung ke ujung lainnya:

Pluto

Inilah planet yang terjauh dari matahari. Alamnya yang berbatu sungguh dingin luar biasa. Dengan suhu permukaan sekitar -238 OC, atmosfer tipis planet ini berupa bongkahan es yang mati.

Neptunus

Inilah satu lagi planet beku dengan suhu permukaan -218OC. Atmosfernya yang terdiri atas gas hidrogen, helium dan metana adalah beracun bagi kehidupan. Kandungan tinggi metana beracun menjadikan atmosfernya berwarna biru. Inilah dunia mematikan yang dipenuhi badai hebat berkecepatan 2000 kilometer per jam.

Uranus

Planet mati ini sebagian besarnya tersusun atas batu dan es. Perlu waktu 84 tahun bumi bagi Uranus untuk mengelilingi matahari. Atmosfer hidrogen, helium, dan metananya sungguh mematikan bagi kehidupan.

Saturnus

Inilah planet terbesar kedua di Tata Surya. Saturnus dikenal dengan susunan cincin yang mengitarinya. Cincin ini terdiri atas gas, bebatuan dan es. Planetnya sendiri secara keseluruhan tersusun atas gas: 75% hidrogen dan 25% helium. Kerapatan planet ini lebih rendah dari air.

Jupiter

Sebagai planet terbesar dalam Tata Surya, Jupiter merupakan planet gas berukuran 318 kali lipat lebih besar dari bumi. Terdapat bintik merah besar pada permukaannya, yang merupakan sebuah badai raksasa yang cukup untuk menelan dua planet Bumi kita. Tak dijumpai daratan pada permukaannya. Suhu Jupiter dingin luar biasa. Terdapat badai besar yang berlangsung ratusan tahun, serta medan magnet yang dapat membinasakan makhluk hidup apa pun. Planet yang mengerikan dan menakutkan ini memiliki bulan yang dipenuhi oleh gunung. Bulan ini dinamakan Io. Io menjadi semacam generator listrik selama bergerak melintasi medan magnet Jupiter, dan mampu membangkitkan tegangan listrik 400.000 volt di antara dua kutubnya.

Mars

Atmosfer Mars bersifat racun dengan kandungan karbon dioksida tinggi. Permukaannya penuh dengan kawah akibat tumbukan meteor, serta ngarai sepanjang ratusan kilometer. Mars merupakan bola batu merah yang diliputi angin kencang dan badai pasir yang berlangsung berbulan-bulan.

Venus

Planet ini tidaklah dingin membeku seperti planet lainnya. Sebaliknya, Venus adalah pemanggang raksasa dengan suhu panas membakar. Suhu permukaannya yang mencapai 450OC cukup untuk melelehkan timbal. Venus mempunyai atmosfer berat yang tersusun atas lapisan tebal karbon dioksida. Tekanan atmosfer planet ini setara dengan tekanan di Bumi pada kedalaman satu kilometer di bawah laut. Atmosfernya diliputi lapisan-lapisan asam sulfat berketinggian ribuan meter. Karenanya, planet ini selalu diguyur hujan asam mematikan. Tak ada yang dapat hidup dengan atmosfer semacam itu.

Merkurius

Planet ini berada paling dekat dengan matahari. Merkurius berputar amat lambat pada sumbunya. Siang dan malamnya yang amat panjang mengakibatkan belahan yang menghadap matahari menjadi merah membara, sedang belahan yang lain membeku. Lingkungan semacam itu akan mematikan segenap makhluk hidup.

Demikianlah, delapan dari sembilan planet di Tata Surya kita, dan seluruh 53 bulannya, tidak mampu menyokong kehidupan. Masing-masing adalah planet mati, bola batu dan gas yang membisu. Namun, ada satu planet dalam Tata Surya yang belum kita amati. Planet ini sungguh berbeda dengan yang lain. Ini karena semua sifatnya, dari atmosfer hingga susunan permukaannya, dari suhu hingga medan magnetnya, dan dari unsur pembentuk hingga jaraknya dari matahari, telah diciptakan secara terbaik untuk menopang kehidupan. Planet tersebut adalah Bumi kita, yang juga dijuluki Planet Biru.

Pada bagian selanjutnya, akan kita singkap bersama sekelumit saja dari beragam misteri tak terhingga dari Planet Biru ini. Sekelumit ini pun sudah cukup untuk menunjukkan kehebatan Pencipta bumi. Dialah Allah, Tuhan yang telah menciptakan bumi beserta kesempurnaannya. Berkat ini semua, kita dapat hidup dengan nyaman. Mahasuci Allah, kepadaNya jualah hendaknya kita haturkan rasa syukur yang tak terkira. (hy)

UKURANNYA MEMANG SUDAH TEPAT

Keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup di bumi adalah seajaib penciptaannya. Semua ini dimungkinkan oleh keadaan khusus yang sengaja dirancang agar paling sesuai bagi kehidupan. Bahkan perubahan terkecil terhadapnya dapat mengakibatkan bencana besar.

Bumi, yang juga dijuluki sebagai Planet Biru, diciptakan secara ajaib dengan sifat istimewanya yang tak terhitung. Semua ini demi menjaga berlangsungnya kehidupan di atasnya. Berkat sifat-sifat ini, yang tidak dimiliki oleh planet-planet tetangganya, bumi menyediakan tempat yang luar biasa nyaman dan indah untuk hidup.

Ukuran bumi bukan kebetulan

Selain jaraknya dari matahari, kecepatan berputarnya, atau ciri permukaannya, bumi juga memiliki ciri penting lain, yakni massanya. Ketika mencermati planet-planet yang ada, akan kita dapati perbedaan massa yang besar. Merkurius, misalnya, berukuran hanya 8% dari massa Bumi, sementara Jupiter 318 kali lebih besar. Apakah ukuran Bumi dibandingkan dengan planet lain merupakan suatu ‘kebetulan’?

Ketika mengamati ukuran Bumi, akan dengan mudah kita lihat bahwa planet kita ternyata memang telah sengaja dirancang agar pas seukurannya yang sekarang ini. Besarnya gaya gravitasi planet, termasuk gravitasi Bumi, ditentukan oleh ukurannya. Semakin besar ukuran sebuah planet, semakin besar pula gravitasinya, begitu pula sebaliknya. Karena itu, besarnya gaya gravitasi bumi yang sudah tepat ini tak terlepas dari ukurannya yang memang sudah pas. Ahli geologi Amerika, Frank Press dan Raymond Siever, mengulas betapa tepatnya ukuran Bumi:

Dan ukuran Bumi benar-benar sudah tepat – [ukurannya] tidak terlalu kecil sehingga akan menyebabkan hilangnya atmosfer akibat gravitasinya yang terlalu lemah untuk mencegah gas-gas lepas ke angkasa, tidak pula terlalu besar sehingga gravitasinya akan menahan terlalu banyak atmosfer, termasuk gas-gas berbahaya. (F. Press, R. Siever, Earth, New York: W. H. Freeman, 1986, hal 4)

Seandainya terdapat lebih banyak oksigen...

Ciri fisik bumi seperti massa, struktur, suhu, dan sebagainya, benar-benar sesuai bagi kehidupan. Namun, ciri semacam itu saja tidak cukup untuk memungkinkan berlangsungnya kehidupan di Bumi. Penentu teramat penting lainnya adalah susunan atmosfer.

Atmosfer Bumi merupakan campuran uap air dan gas-gas yang terdiri atas 77% gas nitrogen, 21% gas oksigen dan 1% gas karbon dioksida. Oksigen sangat penting bagi kehidupan karena gas ini terlibat dalam hampir semua reaksi kimia yang menghasilkan energi yang diperlukan oleh makhluk hidup tingkat tinggi seperti manusia. Hal menarik di sini adalah bahwa kadar oksigen dalam udara yang kita hirup ditentukan dengan sangat tepat. Dalam bukunya Nature’s Destiny: How the Laws of Biology Reveal Purpose in the Universe, profesor mikrobiologi terkenal Michael Denton menulis:

Dapatkah atmosfer Anda mengandung lebih banyak oksigen namun tetap mendukung kehidupan? Tidak! Oksigen adalah unsur yang sangat mudah bereaksi. Bahkan kandungan oksigen di atmosfer yang sekarang, yakni 21%, sangatlah mendekati ambang batas yang aman bagi kehidupan pada suhu lingkungan. Kemungkinan terjadinya kebakaran hutan meningkat sebesar 70% untuk setiap kenaikan 1% kandungan oksigen dalam atmosfer. (Michael Denton, Nature's Destiny: How The Laws of Biology Reveal Purpose in the Universe, The New York: The Free Press, 1998, hal. 121)

Kandungan oksigen di atmosfer yang berada tetap pada angka ini adalah hasil dari peristiwa ‘daur ulang’ yang hebat: Hewan terus-menerus menggunakan gas oksigen dan mengeluarkan gas karbon dioksida yang tidak dapat mereka hirup. Tumbuhan malah melakukan hal sebaliknya: mengambil karbon dioksida yang mereka perlukan untuk hidup, dan melepaskan oksigen. Tumbuhan membebaskan jutaan ton oksigen ke atmosfer setiap harinya. Dengan adanya serangkaian peristiwa ini, kehidupan pun dapat terus berlanjut.

Tanpa kerjasama dan keseimbangan antara dua kelompok makhluk hidup ini, planet kita takkan dapat dihuni. Misalnya, jika makhluk hidup hanya mengambil karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen, maka atmosfer Bumi akan lebih banyak mengandung oksigen. Tingginya kadar oksigen ini akan lebih memudahkan munculnya nyala api dan peristiwa pembakaran daripada biasanya. Akibatnya, percikan api kecil saja sudah mampu memicu kebakaran besar. Demikian pula, jika kelompok hewan dan tumbuhan sama-sama menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, maka jumlah oksigen semakin lama akan semakin menipis. Pada akhirnya, makhluk hidup akan musnah di saat semua oksigen telah habis.

Namun, keseimbangan kehidupan telah ditetapkan dengan sempurna sehingga oksigen di atmosfer selalu dalam kadarnya yang tepat bagi kehidupan. Keseimbangan yang dirancang tanpa cacat, yang senantiasa sempurna di setiap detiknya, sekali lagi memperlihatkan ilmu dan kekuasaan tak berbatas dari Penciptanya. Tuhan seluruh alam, Pencipta langit dan bumi ini adalah Allah yang Mahakuasa, yang telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kita semua. Allah mengajak manusia untuk merenungkan kebenaran ini dalam ayat Al Qur’an:

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin?... (QS. Luqman, 31:20)(hy)

SESULIT MENYEDOT MADU

Kita bernapas setiap saat dalam hidup kita. Kita terus-menerus menghirup dan mengeluarkan udara dari dalam paru-paru kita. Mungkin karena terlalu sering bernapas, kita menganggapnya sebagai hal yang biasa. Namun, bernapas ternyata adalah sebuah pekerjaan yang berlangsung sangat rumit. Seluruh perangkat dan susunan tubuh kita dirancang sedemikian sempurna sehingga kita tak perlu berpikir untuk bernapas.

Mengapa bernapas mudah?

Ketika menghirup udara, oksigen memenuhi sekitar 300 juta ruangan kecil dalam paru-paru kita, yang biasa dikenal sebagai alveoli (tunggal: alveolus). Terdapat pembuluh sangat halus yang berukuran sangat kecil di sekeliling ruangan kecil dalam paru-paru kita. Pembuluh yang biasa disebut pembuluh kapiler ini menyerap gas oksigen (O2) dan melepaskan gas karbon dioksida (CO2). Peristiwa ini berlangsung dalam waktu kurang dari setengah detik: oksigen ‘bersih’ masuk dan karbon dioksida ‘kotor’ keluar. Alasan mengapa ada 300 juta ruang kecil dalam paru-paru adalah agar paru-paru memiliki permukaan seluas mungkin yang dapat bersentuhan langsung dengan udara. Ruangan dalam paru-paru dan pembuluh kapiler yang mengelilinginya dirancang sekecil dan sesempurna ini agar meningkatkan laju pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

Namun rancangan sempurna tersebut bergantung pada hal lain, yaitu kerapatan, kekentalan dan tekanan udara. Ketiga hal ini harus memiliki ukuran yang tepat agar udara dapat bergerak masuk dan keluar dari paru-paru. Sebuah contoh akan memudahkan kita memahami hal ini: sangatlah mudah untuk menyedot air dengan jarum suntik, sebaliknya akan jauh lebih sulit jika kita menggunakannya untuk menyedot madu. Ini karena madu memiliki kekentalan dan kerapatan lebih tinggi dari air. Jika kerapatan, kekentalan dan tekanan udara lebih tinggi, maka bernapas akan sesulit menyedot madu ke dalam jarum suntik. Namun, kita dapat bernapas dengan mudah dan nyaman, bahkan tanpa sadar kalau kita sedang melakukannya.

Demikianlah, yang menjadikan bernapas sedemikian mudah di antaranya adalah sifat dan ukuran atmosfer sebagaimana yang ada saat ini. Ahli biologi molekuler Profesor Michael Denton membuat ulasan berikut ini:

Jelaslah bahwa jika kekentalan atau kerapatan udara lebih tinggi, maka hambatan jalur pernapasan akan tak terkira. Dan tak ada perekayasaan ulang yang mungkin dilakukan pada perangkat pernapasan, yang mampu mengalirkan oksigen dalam jumlah cukup kepada suatu makhluk hidup penghirup udara dengan kerja metabolisme tinggi... Dengan memadukan berbagai tekanan atmosfer yang mungkin dengan berbagai kandungan oksigen yang mungkin, menjadi jelaslah bahwa hanya ada satu bagian teramat kecil... di mana seluruh beragam syarat bagi berlangsungnya kehidupan dapat dipenuhi... Sungguh merupakan hal teramat penting bahwa beberapa syarat penting dipenuhi pada satu bagian kecil ini di antara semua ragam atmosfer yang mungkin. (Michael Denton, Nature's Destiny:How The Laws of Biology Reveal Purpose in the Universe, The New York: The Free Press, 1998, hal. 128)

Ukuran atmosfer tidak hanya penting bagi kita untuk bernapas namun juga penting bagi Planet Biru, yakni bumi kita, agar tetap biru. Jika tekanan atmosfer di permukaan laut jauh lebih rendah dari nilainya yang sekarang, laju penguapan air akan jauh lebih tinggi. Kadar uap air yang meningkat di atmosfer akan mengakibatkan ‘efek rumah kaca’, yang menahan lebih banyak panas dan meningkatkan suhu rata-rata planet bumi. Di lain pihak, jika tekanan jauh lebih tinggi, laju penguapan air akan berkurang, dan mengakibatkan sebagian besar planet ini menjadi gurun.

 

© Copyright Towarani 1407 2010 -2012 | TOWARANI Teluk Bone | Powered by Login.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...